Senin, 09 September 2013

FF/BEFORE I’M GONE/SHINee/ONESHOOT

TITTLE : BEFORE I’M GONE
AUTHOR : DINA CHAGIEYOOGIE SHINEE
CAST : LEE YUNRI (OC)
CHOI MINHO
KIM KIBUM
LEE TAEMIN
KIM JONGHYUN
LEE JINKI
GENRE : ANGST
LENGTH : ONE SHOOT



ff ini sebebrnya udah lama beredar di pasar facebook. atpi baru hari ini saya post. semua yang ada didalam ff ini milik author. cast, alur, plot, setting semuanya milik author. jadi mohon maaf kalo nemuin kesamaan di ff lain tanpa kesengajaan karna otak author.a emang pasaran,... komen? butuh banget :D happy reading :D


>>>>
Yunri POV
Seoul, 7 Desember 2012
Malam kian melarut dengan jutaan bintang bertaburan di angkasa. Meskipun terlihat dari atas kursi roda ini, mereka tetap nampak begitu indah. Terlebih dengan ratusan kembang api yang menghiasi langit membuatku kian terkagum-kagum akan usaha yang dilakukan orang-orang di sampingku ini. aku senang dapat melihat tawa kalian hari ini dan bukan tangisan seperti hari-hari lalu.
Sudah lama sekali rasanya aku tak melihat tawa kalian. Tawa Key oppa, Taemin dan Jonghyun oppa. Apa mungkin aku sudah sakit selama itu hingga lupa kapan terakhir kali melihat kalian tak menampakkan mata sembab itu dihadapanku. Terima kasih. Terima kasih karna kalian telah mau tersenyum hari ini.
Aku senang aku memiliki orang-orang yang aku sayangi yang terus-menerus mengasihiku dan meneteskan buliran-buliran air mata untukku. Namun aku sadar betapa menyedihkannya diriku karna aku hanya dapat menerima kasih dari mereka yang menyayangiku namun aku sendiri tak dapat berbuat apa-apa untuk orang yang aku sayangi.
Jonghyun oppa. Terima kasih telah menganggapku sebagi adikmu sendiri. dan terima kasih telah menjadi teman baik Key oppa selama ini. mian telah membuatmu ikut terlarut dalam kesedihan sakitku ini. sekarang aku mengerti mengapa ada banyak gadis yang menyukaimu. Pantas saja dulu Yueun eonni kerap kali cemburu padaku. Ya tentu saja karna semua perhatianmu ini. terima kasih oppa. Sampaikan maafku ini pada Yueun eonni.
Dan kau Taemin, tawamu masih saja sama dengan dulu. Tertawa tulus dan begitu manis. Taemin, memiliki sahabat sepertimu adalah anugrah terbesar yang Tuhan berikan padaku. Taukah kau apa yang aku khawatirkan jika aku suatu hari nanti pergi? Ya aku takut kau akan sendiri dan tak ada yang melindungimu dari gangguan-gangguan mereka yang iri kepadamu. Apa aku terdengar sombong dengan kekhawatiranku yang tak dapat lagi melindungimu padahal untuk bernafas hari ini saja aku sudah harus bersyukur? Kau tau aku, karna itulah kelebihanku.
Oppaku tercinta. Key oppa. Oppa selalu mengatakan membenciku karna aku selalu berisik dan mengacaukan lukisannya. Setiap kali aku mendengar kata-katamu yang mengatakan kau membenciku, entahlah aku begitu senang. Serasa kata bencimu itu hanyalah kiasan ungkapan sayangmu padaku. aku tau kau begitu menyayangiku melebihi siapapun di dunia ini. aku juga. Aku juga sangat menyayangimu, terima kasih karna telah menjadi oppa sepupu yang terbaik di dunia ini.
Dan satu lagi namja yang paling aku sayangi didunia ini setelah appaku sendiri. Minho oppa. Orang pertama yang membuatku selalu semangat menanti hari esok dan terus mengesampingkan rasa sakit yang kian hari kian menusuk di dadaku ini. Orang pertama yang membuatku bahagia namun juga yang selalu menghempaskan perasaanku hingga hancur berkeping-keping. orang pertama yang mengenalkanku tentang apa itu cinta yang tak terbalaskan.
~Seoul, 24 Agustus 2010
Langit malam masih terlihat pekat dengan bulan yang juga masih bertengger di angkasa. Udara subuh perlahan mulai menyeret kedinginan malam dengan menghantarkan kesejukan angin fajar ini. dengan jaket yang berlapis-lapis kuberanikan diri terus berdiri menunggu kapan dirinya kan terbangun, membuka jendela dan menatapku yang menggigil karna menantinya. Sudah hampir 3 jam aku terjaga mengesampingkan rasa kantukku dengan harapan dia kan segera melihatku.
Benar saja dugaanku. Tak berselang lama, tepat pukul 04.30 jendela kamar yang kunanti itupun terbuka. Sosok tampannya mulai terlihat ketika wajahnya menyembul melihat kegelapan langit Seoul. Mata belonya tertuju padaku yang melingkar menahan dingin karna menunggunya. Akupun tersenyum begitu melihat wujudnya.
“kau…! Apa yang kau lakukan?” tanyanya khawatir. Aku tersenyum, mencoba menggerakkan bibirku yang serasa telah membeku untuk menjawab pertanyaannya. Namun,belum sempat aku berucap, Minho oppa telah menghilang dari sudut jangkauan mataku.
“apa yang kau lakukan Yunri-ah…?” ulang Minho oppa lagi mengalungkan syal coklat yang biasa ia kenakan dan membawaku untuk masuk ke dalam rumahnya.
“non gwanchanayo?” aku mengangguk. Senang sekali rasanya bisa melihat ekspresi khawatirnya seperti ini. heheh mian oppa telah membuatmu khawatir.
“oppa, apa kau akan pergi ke suatu tempat? Bagaimana dengan latihan subuhnmu? apa kau tidak akan berangkat?” tanyaku melihatnya telah sedemikian rapi tak seperti biasanya. Aku hapal betul apa saja yang dilakukan Minho oppa. Terlebih pada jam-jam seperti ini. jika dia sudah membuka matanya, hal pertama yang ia lakukan tentu saja meraih bola basketnya dan segera membawanya ke lapangan basket di sudut jalan. tapi, aku tak tau apa yang akan ia lakuakn hari ini dengan dandanan rapi untuk sepagi ini.
“tak seharusnya kau bertanya. Katakan padaku, apa yang membawamu hingga datang pagi-pagi sekali? apa Key yang menyuruhmu kemari?” balasnya tak mengindahkan pertanyaanku.
“ani. Aku datang kemari karna ini.” segera kukeluarkan sekotak kecil berisi cupcake coklat dengan sebatang lilin di atasnya
“apa ini? ini masih bulan Agustus. Aku tidak merasa berulang tahun hari ini.” ujar Minho oppa berkeryit. Mencoba mengingat bahwa hari ini memanglah bukan hari ulang tahunnya.
“ck, kau ini benar-benar keterlaluan. Siapa bilang hari ini kau berulang tahun. Kau lupa ini tanggal berapa? Oppa, hari ini adalah ulang tahunku.” Kataku kesal karna ia melupakan hari spesialku. Minho oppa tersenyum kecil dan mengusap tengkuknya membuatku seketika ikut tersenyum melihatnya
“Ya, baiklah, ini memang bukan kewajibanmu untuk mengingat kapan aku terlahir, tapi setidaknya kau harus memasang pengingat bahwa hari ini Lee Yunri adik dari sahabatmu berulang tahun. Setelah itu kau baru bisa dikatakan sebagai sahabat yang baik.” Imbuhku menyulut lilin.
“untuk apa kau lakukan semua ini?” tanya Minho oppa mendesah ketika aku perlahan menutup mata untuk sekedar memanjatkan doaku pada Tuhan.
“tentu saja karna kebaikan hatiku. aku memberimu kesempatan untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untukku. Aku bahkan telah mematikan handphoneku agar tak ada orang lain yang mendahului posisimu itu. Ottokhae? apa aku terdengar begitu manis?” jawabku memamerkan poselku yang telah mati sejak tengah malam tadi.
“tak seharusnya kau ada di sini.” Minho oppa membuang nafas dan menatapku lurus,
“Sudah berapa kali aku katakan. Aku bukanlah namja yang tepat untuk menerima kebaikan hatimu, semua perlakuanmu hanya akan menjadi beban untukku. Berhentilah terus berkutat di antaraku. Berhentilah melakukan hal-hal yang nantinya akan kau sesali sendiri. Itu hanya akan membuatmu terluka.” Tandas minho oppa dingin menghentikan ucapannya sejenak.
“Jadi berhentilah membuatku terus merasa bersalah.” Imbuhnya lagi.
Aku menatapnya sejenak. Tatapan itu. Aku mengenali tatapan itu. Tatapan penuh ketidaksukaan. Sama halnya dengan tatapan dinginnya ketika dia kalah dalam pertandingan basketnya. Ya, aku tahu, ini adalah tatapan kebenciannya.
“mianhaeyo, aku tak bermaksud demikian. Aku tak memaksamu untuk menyukaiku. Semua yang kulakukan selama ini adalah hal yang memang aku inginkan. Jadi kau tak perlu merasa terbebani.” Aku menunduk menyembunyika buliran air mataku. Seketika dadaku terasa begitu sesak dan sakit mendengar uraiannya. Apa aku tak sepantas itu untuk mencintaimu?
“aku akan berangkat ke Amerika subuh ini. sampaikan ini pada Key. Mian aku tak bisa berpamitan langsung dengannya.” Ujar Minho oppa bangkit dari duduknya dan melenggang menjauh meninggalkanku yang masih tertunduk menahan sakit di dadaku. ~
Ingatan itu serasa melayang-layang memenuhi otakku. Ada sedikit getaran hebat di dadaku kala itu hingga membuatku harus meringkuh di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Dan sekarang tiap kali aku mengingat kepergiannya 2 tahun silam, aku tak dapat menahan reaksi kimia di mataku untuk tidak menangis. Dalam benakku aku masih saja bertanya-tanya apa alasannya yang terus menolak perasaanku. Apakah aku terlalu agresif? Ataukah sudah ada yeoja lain yang ia sukai? Huft, segeralah kembali dan jelaskan padaku mengapa ini semua terjadi. Oppa aku bertahan karna aku menunggumu.
“ya, kau menangis?” Key oppa menundukkan badannya dan menatapku yang menunduk karna teringat Minho oppa. Ku usap mataku dan tersenyum menutupi perasaanku. Keure, aku tidak boleh sedih disaat semua orang tersenyum.
“ani. Aku bukan gadis cengeng yang mudah menangis.”
“lalu apa yang barusan aku lihat. Apa itu bukan air mata? Eoh? Katakan padaku apa kau terharu melihat ini semua?” balas Key oppa tak mau kalah.
“ani.”
“ya, bocah ini. setidaknya kau harus menitikkan sebutir air mata karna terharu.”
“shireo…”
“ya…!”
“sudahlah Key, kau tak perlu memaksanya untuk menangis terharu karna usaha heroic kita.” Ujar Jonghyun oppa merangkul bahu Key oppa yang masih saja menuntut tangisan haruku.
“hyung, suster yang memberi ijin pada kita mengirim pesan untuk segera kembali. Sebentar lagi dokter akan memeriksa Yunri.” Kata Taemin membuatku terkulai. Huft, sebentar lagi adalah saatnya bahan-bahan kimia itu dimasukkan dalam aliran darahku. Aish, aku benci saat itu.
“non gwanchanayo?” tanya Jonghyun oppa menangkap gelagat ketidaksukaanku. Aku mengangguk dan memasang senyum palsu untuk menguatkan diriku sendiri.
“tenanglah, obat itu tak akan membunuhmu.” Goda Key oppa berkerling jail membuatku semakin tak ingin menampakkan ketidakinginanku ini.
“aku tidak bilang aku takut untuk kembali. Meskipun ribuan kali obat-obat itu memasuki tubuhku, aku akan tetap bertahan. Bukankah aku ini wonder girls…!” Jonghyun oppa tersenyum dan mengusutkan rambutku.
“ya, oppa. Berhenti mengusutkan rambutku. Aku tak ingin menghabiskan uangku setelah keluar dari rumah sakit hanya untuk menata rambutku di salon...” Ujarku mengerucutkan bibirku. Key oppa menjepit bibirku, “berhenti bicara! Dan segeralah kembali.” Titahnya lagi melepaskan tangannya dari bibirku.
“dengarkan aku! jika kau sudah sembuh nanti aku akan membawamu ke Afrika. Akan aku tunjukkan sabana terindah di sana. jadi berjanjilah kau akan tetap bertahan demi tempat yang paling ingin kau kunjungi.” Imbuh Key oppa menyemangatiku dengan embel-embel Benua Afrika menantiku.
“hyung, biarkan aku mendorong kursi roda Yunri. Entah mengapa aku ingin sekali mendorongnya. bolehkan hyung?” tawar taemin membuatku sedikit terheran. Bukan apa-apa. setahuku, selama aku terus duduk di atas kursi roda untuk mencari udara segar seperti hari ini, dia tak pernah sekalipun mau mendorongku sekeras apapun kau memaksanya. Baiklah bukankah ini adalah perubahan besar untuk taemin?
End POV
>>>
Author POV
Tubuh kurus Yunri yang terlilit selang-selang tipis mulai terguncang setelah beberapa menit obat-obat itu masuk ke dalam tubuhnya. Nafasnya tak beraturan. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya menggigil terdengar satu kata yang keluar dari bibir tipisnya. Dingin. Ya, hanya itu yang bisa ia ekspresikan.
Tanpa aba-aba dengan sigap Key memeluk tubuh ringkih Yunri. Meskipun beberapa saat yang lalu ia masih bisa tertawa bersama Yunri, kali ini ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis melihat penderitaan adiknya. Saat ini lah yang selalu menunjukkan betapa sayangnya Key pada Yunri. Selalu setia untuk memeluknya hingga dirinya benar-benar merasa damai.
Nyonya Jung terkulai lemas dalam pelukan suaminya. Tangannya terus mendekap mulutnya. Air matanyapun tak henti bercucuran mendapati putri satu-satunya harus bertaruh dalam hidup dan mati dengan semua cairan kimia itu. Tak ada yang dapat ia lakukan selain pasrah pada Tuhan dan percaya pada orang-orang berbaju putih itu bahwa putrinya akan baik-baik saja.
~Yunri POV
Angin bertiup lembut membuaiku. Langit tersenyum cerah seakan menyambutku penuh kegembiraan. Dapat kucium aroma tanah yanh basah karna rintikan hujan telah usai menyapu debu-debu yang beterbangan. Bunga tulip kuning tumbuh berdiri tinggi menyamarkan wujudku diantara mereka. Tuhan, indah sekali tempat ini. dimanakah aku sekarang? Bolehkan aku tetap tinggal untuk rasakan kedamainmu ini Tuhan?
kau tak boleh tinggal. di sini bukan tempatmu.” Ujar suara berat yang begitu kurindu. Aku berbalik. Kudapati wujud Minho oppa dengan kemeja putih bersih berdiri di atas batu besar di tepi sungai yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Minho oppa!” segera aku berhambur kearahnya. Setidaknya ditempat asing ini aku tak sendiri. masih ada orang yang aku kenali. Terlebih dia adalah Minho oppa.
apa kau senang berada di sini?” tanya Minho oppa tersenyum penuh keramahan.
ne. di sini jauh lebih baik daripada di Seoul. Tempat ini mirip sekali dengan tempat yang ingin aku kunjungi. Bahkan ini jauh lebih indah dari dugaanku.”
oppa, kemana sajakah kau selama ini?” tanyaku tak berani menatapnya. Entahlah aku tak tau pasti mengapa aku seperti ini. selalu saja terlihat lemah di hadapannya.
apa kau menungguku?” celetuknya menyentakkanku. Aku mengangguk perlahan dan meliriknya sekilas.
lelah sekali mengatakan padamu, Yunri-ah ini untuk terakhir kalinya. Jangan berikan hatimu padaku. itu hanya…”
wae oppa? Waeyo? Kenapa aku tak boleh menyukaimu? Apa karna aku adik Key oppa? Apa karna ada gadis lain yang kau sukai? Atau… karna aku sakit?” mataku mulai terasa panas untuk menahan laju air mataku.
Tuhan musnahkanlah sakit yang ia rasakan. Hentikan semua penderitaan yang membuatnya tak lagi dapat tersenyum seperti dulu. Jangan biarkan ia terus tersenyum untuk menyembunyikan lara pada jantungnya yang kian hari terus menyiksanya. Tuhan, berikanlah kemurahan hatimu. Biarkan aku merasakan apa yang ia rasakan. Pindahkanlah semua sakitnya pada tubuh penuh dosa hambamu ini. biarkanlah nyawa tak berhargaku mengganti hidupnya yang penuh dengan makna. Tuhan, sungguh aku meminta padamu berikan apa yang aku minta malam ini demi kesembuhan gadis cilik di hadapanku ini yang begitu ku sayangi…” sederet doa panjang yang kudengar entah dari mana yang kuyakini adalah suara key oppa yang berseru dari langit biru yang terus menatapku. Ku alihkan pandanganku pada Minho oppa yang menatapku sendu siap jabarkan apa yang tlah terjadi.
karna itulah kau tak boleh menyukaiku.” Jawab Minho oppa langsung tanpa menungguku bertanya lagi kenapa. Ia berbalik meninggalkanku yang masih berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
Ku ikuti kemana arah wujudnya berlabuh. Nihil. Tak kutemukan dirinya berada sekalipun jejak-jejak kakinya yang barang kali dapat membantuku mengantarkanku padanya. Tempat ini berubah mengerikan ketika kusadari aku hanya sendiri. aku ingin kembali Tuhan…! ~
Mata sipit Yunri mengerjap terbangun dari tidur panjangnya yang membuat semua orang begitu khawatir jika dia tak akan membuka mata lagi. Key tersenyum dan cepat-cepat mengusap pipinya yang sembab karna lumeran air matanya. Tangan Yunri perlahan meraih tudung oksigen yang menghalangi hidungnya.
“oppa…!” seru Yunri lemah. Key mendekat dan meraih tangan Yunri. Dengan seksama ia mencoba menangkap ucapan-ucapan adiknya.
“Aku telah mendengar semuanya. jangan pernah berdoa seperti itu. Aku tak suka mendengar kau meminta Tuhan untuk menukarkan nyawamu denganku. Cukup aku yang menjadi anak durhaka pada umma dan appa. Cukup aku saja yang menorehkan kesedihan pada mereka. kau harus tetap hidup untuk mendoakan kesehatan kim ahjussi dan lee Ahjumma.” Pinta Yunri menahan tangis.
Nyonya Jung mendekati Yunri dengan terbata-bata menahan tangis untuk menguatkan putrinya, “kau putriku, kau tak akan pernah menjadi anak durhaka. Sakit ini bukanlah kemauanmu. Umma tau itu!”
“bakti seorang anak akan terlihat ketika orang tuanya telah meninggal nanti. Mian umma, appa aku tak dapat menuntaskan kebaktianku pada kalian. Aku harap kalian tak pernah menyesal telah merawat anak yang tak dapat berbakti pada orang tuanya.”
“kami tak pernah menyesal telah membawamu ke dunia ini. dan kami tau kau tak akan menjadi anak yang durhaka karna kau akan baik-baik saja. Setelah ini semuanya akan kembali ke keadaan semula. Dan kami tau kau akan menuntaskan baktimu pada kami.” Ujar Tuan Lee mengusap penuh kasih kening putrinya.
“gumawo. Oppa, tolong bawa aku keluar.”
“mwo?”
“Aku ingin menghirup udara segar malam ini. bukankah aku telah tertidur cukup lama?” Key melirik sekilas orang tua Yunri meminta persetujuan mereka untuk membawanya keluar menuruti permintaan putrinya.
End POV
>>>
Yunri POV
“malam ini, mengapa hanya ada bintang-bintang kecil yang tak berbinar?” tanyaku basa-basi pada Minho oppa yang duduk di bangku taman dan terus memperhatikanku.
Ya, kali ini aku bisa melihat keelokan malam hanya berdua saja bersama Minho oppa. Apa ini terdengar aneh? Setelah sekian lama Minho oppa menghilang tanpa kabar kini ia berada di sampingku yang masih saja mengaguminya. Apa mungkin hatinya tlah terbuka untukku? Hingga ia mau meluangkan secuil waktunya bersamaku? Jika ya aku rasa malam ini adalah malam keberuntunganku karna dapat menghabiskan sisa waktuku bersamanya. tentu saja mana mungkin aku menolaknya. Dan seperti inilah aku bersamanya.
“oppa, apa kau tau sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku polos terus memandang bintang.
“2 hari.” Jawab Minho oppa singkat.
“benarkah? Berarti hari ini adalah tepat hari ulang tahunmu. Bukankah ini belum lewat tengah malam oppa?” kututup mataku dengan kedua tanganku saling berdekapan di depan wajahku. Dengan khusyuk kupanjatkan doa penuh pengharapan pada Tuhan yang mungkin saja bermurah untuk mengabulkan doaku.
“apa yang kau lakukan?” tanya Minho oppa ketika mataku telah terbuka dari kekhusukanku berdoa.
“berdoa. Memohon semua yang terbaik pada hari spesialmu.” Jawabku singkat memandangnya.
“benarkah? Apa yang kau minta?”
“rahasia. aku tak bisa mengatakannya. Aku takut permohonanku tak akan dikabulkan oleh Tuhan jika aku katakan sekarang.” Sesalku tak memandangnya.
“lalu doa apakah yang kau minta pada hari itu?” aku terdongak mencoba menerka apa yang dimaksud Minho oppa. Apa mungkin yang ia maksud permohonanku ketika ia pergi meninggalkanku?
“saat itu aku meminta pada Tuhan agar mau membukakan hatimu untuk menerimaku. Namun jika kau masih tak mau menerimaku, setidaknya berikanlah aku kehidupan hingga aku mengetahui alasan apakah itu. Dan aku senang dalam tidur singkatku aku telah menemukan jawaban apa yang aku ingin ketahui.” Jelasku tetap tersenyum. “ Oppa benarkah kau tak bisa menerimaku karna sakit ini?”
“Yunri-ah…”
“apa aku benar?” tanyaku menatapnya dalam. Minho oppa membuang nafasnya dan mencoba setenang mungkin untuk menjawabku.
“aku hanya tak ingin menjadi seseorang yang akan mempercepat jalan kehidupanmu. membuat orang-orang yang begitu mencintaimu dan mengharapkanmu tetap hidup semakin bersedih. Dokter bilang ritmik detakan jantungmu semakin tak menentu. Kau tak boleh terlalu gembira ataupun bersedih apalagi terluka untuk menghindari reaksi berlebihan detakan jantungmu itu. Karna itu aku tak berani berada di dekatmu. Aku takut akan membuat detakan jantungmu kian tak terkendali.” Jelas Minho oppa.
“Dalam strata perasaan manusia menjelaskan bahwa kegembiraan lebih baik dari pada kesedihan. Kesedihan lebih baik dari keputus asaan. Dan keputusasaan itu jauh lebih baik daripada kehampaan. jika itu alasanmu, lebih baik kau menyakitiku daripada aku harus merasakan hampanya hatiku. Karna kehampaan itulah yang akan membunuhku secara perlahan. Tanpa belas kasih untuk ijinkanku merasakan semua strata perasaan manusia yang ada.” Balasku membuatnya terdiam. Aku rasa kini ia tengah berpikir bahwa apa yang aku ucapkan benar.
“sekarang jawab aku. Apa kau memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan padamu?” dia menatapku sejenak tak langsung menjawab pertanyaan singkatku.
“jawaban ya atau tidak darimu tak akan membunuhku seketika ini juga.” Imbuhku tersenyum meyakinkannya.
Dia mendekat dan bersimpuh di hadapanku perlahan menggerakkan tangannya mengusap keningku, “ne, nan jongmal saranghaeyo!” ujar Minho oppa membuatku tak dapat menahan air mata bahagia karnanya. Dia memeluk dan menenangkanku. Membiarkanku menikmati aroma tubuhnya yang mungkin tak dapat kutemui lagi suatu hari nanti.
Jam bandol besar berdetak 12 kali. Menunjukkan bahwa periode tanggal 9 Desember telah berlalu dengan aku yang memeluknya.
“Tuhan kabulkan doaku. Ambillah aku jika ini memang waktunya. Aku siap pergi sekarang juga dalam dekap kasih orang yang aku cintai. Terima kasih telah memberiku waktu selama ini.” Batinku dalam dekapan pelukannya.
Seketika semua kabur dan meremang. Cahaya putih rembulan perlahan memudar. Semua terlihat gelap namun begitu indah yang kurasakan. Karna hari ini aku melepaskan semua sakitku dan dapat menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan orang terkasihku. Terima kasih atas semua cinta yang kalian curahkan padaku, dan mian telah mengukir sendu dalam tiap linangan air matamu. 10 Desember 2012 00:03 KST Lee Yunri tlah menghempaskan hidupnya.
>>>
Daun-daun kuning yang berterbangan mengantarkan pemakamanku hari ini. dari sudut Afrika yang kutemukan tempo hari yang lalu, dapat dengan jelas aku melihat mereka yang mencintaiku mengantarkan jasadku. Buliran-buliran ketulusan itupun jatuh satu persatu di atas tanah pemakamanku. Melihat mereka hari ini, membuatku serasa ingin menghapus semua kesedihan ini.
Seorang namja berbaju hitam lengkap dengan payung yang terlipat rapi menyangganya, juga vedora hitam bertengger di kepalanya menghampiriku, “Tuhan telah bermurah hati mengabulkan semua permintaanmu. Jangan bepikir serakah dan meminta untuk kembali ke alam yang tak seharusnya kau pijaki lagi.” Ujarnya cukup mengejutkanku.
“kereta akan segera tiba. Tatalah hatimu untuk bergabung dalam dunia baru.” Imbuhnya. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk kedalam kereta listrik yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
“mianhamnida. Tuan, anda ini siapa?” tanyaku hati-hati ketika dia telah duduk di seberang tempat dudukku.
“aku, Lee Jinki, masinis Kereta Alam Dua Dunia. Tugasku menjemput orang-orang sepertimu yang baru saja meninggal dan mengantarnya ke alam ke dua.”
“oh, tuan Lee, apa anda ini seorang malaikat? Apakah di alam kedua nanti aku dapat bertemu dengan Tuhan?” tanyaku berbinar.
“mollayo. Itu bukan wewenang yang aku ketahui. Lantas apa yang ingin kau lakukan jika dapat bertemu dengan-Nya?”
“aku ingin berterima kasih karna telah mengabulkan permintaanku.” Jawabku singkat.
“permintaan? Permintaan yang mana?”
“permintaan terakhirku. Terima kasih karna telah terkabulnya harapanku, aku senang aku tidak meninggal di hari special orang yang aku cintai. Setidaknya orang yang aku cintai itu tak akan mengutuk hari kelahirannya karna bertepatan dengan hari meninggalnya diriku. Terima kasih karna telah memberiku jawaban atas semua pertanyaanku.” Jawabku innocent.
“simpan ucapan terima kasihmu jika kau memang sudah berhadapan langsung dengan-Nya. Berpeganganlah. Kereta akan melaju sangat pesat!”
Kereta mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat. Pergerakannya begitu singkat ketika melewati gundukan tanah yang telah mengubur jasadku rapat-rapat. Dan dari jendela bening ini, dapat aku tangkap potret orang-orang yang mencintaiku. Yang telah ikhlas melepasku. Meskipun sekilas, aku cukup senang dapat menangkap goresan-goresan tegas wajah mereka.
“Selamat melanjutkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.”




----THE END-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar