TITTLE : BEFORE I’M
GONE
AUTHOR : DINA
CHAGIEYOOGIE SHINEE
CAST : LEE YUNRI (OC)
CHOI MINHO
KIM KIBUM
LEE TAEMIN
KIM JONGHYUN
LEE JINKI
GENRE : ANGST
LENGTH : ONE SHOOT
ff ini sebebrnya udah lama beredar di pasar facebook. atpi baru hari ini saya post. semua yang ada didalam ff ini milik author. cast, alur, plot, setting semuanya milik author. jadi mohon maaf kalo nemuin kesamaan di ff lain tanpa kesengajaan karna otak author.a emang pasaran,... komen? butuh banget :D happy reading :D
ff ini sebebrnya udah lama beredar di pasar facebook. atpi baru hari ini saya post. semua yang ada didalam ff ini milik author. cast, alur, plot, setting semuanya milik author. jadi mohon maaf kalo nemuin kesamaan di ff lain tanpa kesengajaan karna otak author.a emang pasaran,... komen? butuh banget :D happy reading :D
>>>>
Yunri
POV
Seoul,
7 Desember 2012
Malam
kian melarut dengan jutaan bintang bertaburan di angkasa. Meskipun
terlihat dari atas kursi roda ini, mereka tetap nampak begitu indah.
Terlebih dengan ratusan kembang api yang menghiasi langit membuatku
kian terkagum-kagum akan usaha yang dilakukan orang-orang di
sampingku ini. aku senang dapat melihat tawa kalian hari ini dan
bukan tangisan seperti hari-hari lalu.
Sudah
lama sekali rasanya aku tak melihat tawa kalian. Tawa Key oppa,
Taemin dan Jonghyun oppa. Apa mungkin aku sudah sakit selama itu
hingga lupa kapan terakhir kali melihat kalian tak menampakkan mata
sembab itu dihadapanku. Terima kasih. Terima kasih karna kalian telah
mau tersenyum hari ini.
Aku senang aku memiliki orang-orang yang aku sayangi yang
terus-menerus mengasihiku dan meneteskan buliran-buliran air mata
untukku. Namun aku sadar betapa menyedihkannya diriku karna aku hanya
dapat menerima kasih dari mereka yang menyayangiku namun aku sendiri
tak dapat berbuat apa-apa untuk orang yang aku sayangi.
Jonghyun
oppa. Terima kasih telah menganggapku sebagi adikmu sendiri. dan
terima kasih telah menjadi teman baik Key oppa selama ini. mian telah
membuatmu ikut terlarut dalam kesedihan sakitku ini. sekarang aku
mengerti mengapa ada banyak gadis yang menyukaimu. Pantas saja dulu
Yueun eonni kerap kali cemburu padaku. Ya tentu saja karna semua
perhatianmu ini. terima kasih oppa. Sampaikan maafku ini pada Yueun
eonni.
Dan
kau Taemin, tawamu masih saja sama dengan dulu. Tertawa tulus dan
begitu manis. Taemin, memiliki sahabat sepertimu adalah anugrah
terbesar yang Tuhan berikan padaku. Taukah kau apa yang aku
khawatirkan jika aku suatu hari nanti pergi? Ya aku takut kau akan
sendiri dan tak ada yang melindungimu dari gangguan-gangguan mereka
yang iri kepadamu. Apa aku terdengar sombong dengan kekhawatiranku
yang tak dapat lagi melindungimu padahal untuk bernafas hari ini saja
aku sudah harus bersyukur? Kau tau aku, karna itulah kelebihanku.
Oppaku
tercinta. Key oppa. Oppa selalu mengatakan membenciku karna aku
selalu berisik dan mengacaukan lukisannya. Setiap kali aku mendengar
kata-katamu yang mengatakan kau membenciku, entahlah aku begitu
senang. Serasa kata bencimu itu hanyalah kiasan ungkapan sayangmu
padaku. aku tau kau begitu menyayangiku melebihi siapapun di dunia
ini. aku juga. Aku juga sangat menyayangimu, terima kasih karna telah
menjadi oppa sepupu yang terbaik di dunia ini.
Dan
satu lagi namja yang paling aku sayangi didunia ini setelah appaku
sendiri. Minho oppa. Orang pertama yang membuatku selalu semangat
menanti hari esok dan terus mengesampingkan rasa sakit yang kian hari
kian menusuk di dadaku ini. Orang pertama yang membuatku bahagia
namun juga yang selalu menghempaskan perasaanku hingga hancur
berkeping-keping. orang pertama yang mengenalkanku tentang apa itu
cinta yang tak terbalaskan.
~Seoul,
24 Agustus 2010
Langit
malam masih terlihat pekat dengan bulan yang juga masih bertengger di
angkasa. Udara subuh perlahan mulai menyeret kedinginan malam dengan
menghantarkan kesejukan angin fajar ini. dengan jaket yang
berlapis-lapis kuberanikan diri terus berdiri menunggu kapan dirinya
kan terbangun, membuka jendela dan menatapku yang menggigil karna
menantinya. Sudah hampir 3 jam aku terjaga mengesampingkan rasa
kantukku dengan harapan dia kan segera melihatku.
Benar
saja dugaanku. Tak berselang lama, tepat pukul 04.30 jendela kamar
yang kunanti itupun terbuka. Sosok tampannya mulai terlihat ketika
wajahnya menyembul melihat kegelapan langit Seoul. Mata belonya
tertuju padaku yang melingkar menahan dingin karna menunggunya.
Akupun tersenyum begitu melihat wujudnya.
“kau…!
Apa yang kau lakukan?” tanyanya khawatir. Aku tersenyum, mencoba
menggerakkan bibirku yang serasa telah membeku untuk menjawab
pertanyaannya. Namun,belum sempat aku berucap, Minho oppa telah
menghilang dari sudut jangkauan mataku.
“apa
yang kau lakukan Yunri-ah…?” ulang Minho oppa lagi mengalungkan
syal coklat yang biasa ia kenakan dan membawaku untuk masuk ke dalam
rumahnya.
“non
gwanchanayo?” aku mengangguk. Senang sekali rasanya bisa melihat
ekspresi khawatirnya seperti ini. heheh mian oppa telah membuatmu
khawatir.
“oppa,
apa kau akan pergi ke suatu tempat? Bagaimana dengan latihan
subuhnmu? apa kau tidak akan berangkat?” tanyaku melihatnya
telah sedemikian rapi tak seperti biasanya. Aku hapal betul apa saja
yang dilakukan Minho oppa. Terlebih pada jam-jam seperti ini. jika
dia sudah membuka matanya, hal pertama yang ia lakukan tentu saja
meraih bola basketnya dan segera membawanya ke lapangan basket di
sudut jalan. tapi, aku tak tau apa yang akan ia lakuakn hari ini
dengan dandanan rapi untuk sepagi ini.
“tak
seharusnya kau bertanya. Katakan padaku, apa yang membawamu hingga
datang pagi-pagi sekali? apa Key yang menyuruhmu kemari?” balasnya
tak mengindahkan pertanyaanku.
“ani.
Aku datang kemari karna ini.” segera kukeluarkan sekotak kecil
berisi cupcake coklat dengan sebatang lilin di atasnya
“apa
ini? ini masih bulan Agustus. Aku tidak merasa berulang tahun hari
ini.” ujar Minho oppa berkeryit. Mencoba mengingat bahwa hari ini
memanglah bukan hari ulang tahunnya.
“ck,
kau ini benar-benar keterlaluan. Siapa bilang hari ini kau berulang
tahun. Kau lupa ini tanggal berapa? Oppa, hari ini adalah ulang
tahunku.” Kataku kesal karna ia melupakan hari spesialku. Minho
oppa tersenyum kecil dan mengusap tengkuknya membuatku seketika ikut
tersenyum melihatnya
“Ya, baiklah, ini memang bukan kewajibanmu untuk mengingat kapan
aku terlahir, tapi setidaknya kau harus memasang pengingat bahwa hari
ini Lee Yunri adik dari sahabatmu berulang tahun. Setelah itu kau
baru bisa dikatakan sebagai sahabat yang baik.” Imbuhku menyulut
lilin.
“untuk
apa kau lakukan semua ini?” tanya Minho oppa mendesah ketika aku
perlahan menutup mata untuk sekedar memanjatkan doaku pada Tuhan.
“tentu
saja karna kebaikan hatiku. aku memberimu kesempatan untuk menjadi
orang pertama yang mengucapkan selamat untukku. Aku bahkan telah
mematikan handphoneku agar tak ada orang lain yang mendahului
posisimu itu. Ottokhae? apa aku terdengar begitu manis?” jawabku
memamerkan poselku yang telah mati sejak tengah malam tadi.
“tak seharusnya kau ada di sini.” Minho oppa membuang nafas dan
menatapku lurus,
“Sudah
berapa kali aku katakan. Aku bukanlah namja yang tepat untuk menerima
kebaikan hatimu, semua perlakuanmu hanya akan menjadi beban untukku.
Berhentilah terus berkutat di antaraku. Berhentilah melakukan hal-hal
yang nantinya akan kau sesali sendiri. Itu hanya akan membuatmu
terluka.” Tandas minho oppa dingin menghentikan ucapannya sejenak.
“Jadi
berhentilah membuatku terus merasa bersalah.” Imbuhnya lagi.
Aku
menatapnya sejenak. Tatapan itu. Aku mengenali tatapan itu. Tatapan
penuh ketidaksukaan. Sama halnya dengan tatapan dinginnya ketika dia
kalah dalam pertandingan basketnya. Ya, aku tahu, ini adalah tatapan
kebenciannya.
“mianhaeyo,
aku tak bermaksud demikian. Aku tak memaksamu untuk menyukaiku. Semua
yang kulakukan selama ini adalah hal yang memang aku inginkan. Jadi
kau tak perlu merasa terbebani.” Aku menunduk menyembunyika buliran
air mataku. Seketika dadaku terasa begitu sesak dan sakit mendengar
uraiannya. Apa aku tak sepantas itu untuk mencintaimu?
“aku
akan berangkat ke Amerika subuh ini. sampaikan ini pada Key. Mian aku
tak bisa berpamitan langsung dengannya.” Ujar Minho oppa bangkit
dari duduknya dan melenggang menjauh meninggalkanku yang masih
tertunduk menahan sakit di dadaku. ~
Ingatan itu serasa
melayang-layang memenuhi otakku. Ada sedikit getaran hebat di dadaku
kala itu hingga membuatku harus meringkuh di rumah sakit untuk
kesekian kalinya. Dan sekarang tiap kali aku mengingat kepergiannya 2
tahun silam, aku tak dapat menahan reaksi kimia di mataku untuk tidak
menangis. Dalam benakku aku masih saja bertanya-tanya apa alasannya
yang terus menolak perasaanku. Apakah aku terlalu agresif? Ataukah
sudah ada yeoja lain yang ia sukai? Huft, segeralah kembali dan
jelaskan padaku mengapa ini semua terjadi. Oppa aku bertahan karna
aku menunggumu.
“ya,
kau menangis?” Key oppa menundukkan badannya dan menatapku yang
menunduk karna teringat Minho oppa. Ku usap mataku dan tersenyum
menutupi perasaanku. Keure, aku tidak boleh sedih disaat semua orang
tersenyum.
“ani.
Aku bukan gadis cengeng yang mudah menangis.”
“lalu
apa yang barusan aku lihat. Apa itu bukan air mata? Eoh? Katakan
padaku apa kau terharu melihat ini semua?” balas Key oppa tak mau
kalah.
“ani.”
“ya,
bocah ini. setidaknya kau harus menitikkan sebutir air mata karna
terharu.”
“shireo…”
“ya…!”
“sudahlah
Key, kau tak perlu memaksanya untuk menangis terharu karna usaha
heroic kita.” Ujar Jonghyun oppa merangkul bahu Key oppa yang masih
saja menuntut tangisan haruku.
“hyung,
suster yang memberi ijin pada kita mengirim pesan untuk segera
kembali. Sebentar lagi dokter akan memeriksa Yunri.” Kata Taemin
membuatku terkulai. Huft, sebentar lagi adalah saatnya bahan-bahan
kimia itu dimasukkan dalam aliran darahku. Aish, aku benci saat itu.
“non
gwanchanayo?” tanya Jonghyun oppa menangkap gelagat
ketidaksukaanku. Aku mengangguk dan memasang senyum palsu untuk
menguatkan diriku sendiri.
“tenanglah,
obat itu tak akan membunuhmu.” Goda Key oppa berkerling jail
membuatku semakin tak ingin menampakkan ketidakinginanku ini.
“aku
tidak bilang aku takut untuk kembali. Meskipun ribuan kali obat-obat
itu memasuki tubuhku, aku akan tetap bertahan. Bukankah aku ini
wonder girls…!” Jonghyun oppa tersenyum dan mengusutkan rambutku.
“ya,
oppa. Berhenti mengusutkan rambutku. Aku tak ingin menghabiskan
uangku setelah keluar dari rumah sakit hanya untuk menata rambutku di
salon...” Ujarku mengerucutkan bibirku. Key oppa menjepit bibirku,
“berhenti bicara! Dan segeralah kembali.” Titahnya lagi
melepaskan tangannya dari bibirku.
“dengarkan
aku! jika kau sudah sembuh nanti aku akan membawamu ke Afrika. Akan
aku tunjukkan sabana terindah di sana. jadi berjanjilah kau akan
tetap bertahan demi tempat yang paling ingin kau kunjungi.” Imbuh
Key oppa menyemangatiku dengan embel-embel Benua Afrika menantiku.
“hyung,
biarkan aku mendorong kursi roda Yunri. Entah mengapa aku ingin
sekali mendorongnya. bolehkan hyung?” tawar taemin membuatku
sedikit terheran. Bukan apa-apa. setahuku, selama aku terus duduk di
atas kursi roda untuk mencari udara segar seperti hari ini, dia tak
pernah sekalipun mau mendorongku sekeras apapun kau memaksanya.
Baiklah bukankah ini adalah perubahan besar untuk taemin?
End
POV
>>>
Author
POV
Tubuh
kurus Yunri yang terlilit selang-selang tipis mulai terguncang
setelah beberapa menit obat-obat itu masuk ke dalam tubuhnya.
Nafasnya tak beraturan. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya menggigil
terdengar satu kata yang keluar dari bibir tipisnya. Dingin. Ya,
hanya itu yang bisa ia ekspresikan.
Tanpa
aba-aba dengan sigap Key memeluk tubuh ringkih Yunri. Meskipun
beberapa saat yang lalu ia masih bisa tertawa bersama Yunri, kali ini
ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis melihat penderitaan
adiknya. Saat ini lah yang selalu menunjukkan betapa sayangnya Key
pada Yunri. Selalu setia untuk memeluknya hingga dirinya benar-benar
merasa damai.
Nyonya
Jung terkulai lemas dalam pelukan suaminya. Tangannya terus mendekap
mulutnya. Air matanyapun tak henti bercucuran mendapati putri
satu-satunya harus bertaruh dalam hidup dan mati dengan semua cairan
kimia itu. Tak ada yang dapat ia lakukan selain pasrah pada Tuhan dan
percaya pada orang-orang berbaju putih itu bahwa putrinya akan
baik-baik saja.
~Yunri
POV
Angin
bertiup lembut membuaiku. Langit tersenyum cerah seakan menyambutku
penuh kegembiraan. Dapat kucium aroma tanah yanh basah karna rintikan
hujan telah usai menyapu debu-debu yang beterbangan. Bunga tulip
kuning tumbuh berdiri tinggi menyamarkan wujudku diantara mereka.
Tuhan, indah sekali tempat ini. dimanakah aku sekarang? Bolehkan aku
tetap tinggal untuk rasakan kedamainmu ini Tuhan?
“kau
tak boleh tinggal. di sini bukan tempatmu.” Ujar suara berat yang
begitu kurindu. Aku berbalik. Kudapati wujud Minho oppa dengan kemeja
putih bersih berdiri di atas batu besar di tepi sungai yang tak jauh
dari tempatku berdiri.
“Minho
oppa!” segera aku berhambur kearahnya. Setidaknya ditempat asing
ini aku tak sendiri. masih ada orang yang aku kenali. Terlebih dia
adalah Minho oppa.
“apa
kau senang berada di sini?” tanya Minho oppa tersenyum penuh
keramahan.
“ne.
di sini jauh lebih baik daripada di Seoul. Tempat ini mirip sekali
dengan tempat yang ingin aku kunjungi. Bahkan ini jauh lebih indah
dari dugaanku.”
“oppa,
kemana sajakah kau selama ini?” tanyaku tak berani menatapnya.
Entahlah aku tak tau pasti mengapa aku seperti ini. selalu saja
terlihat lemah di hadapannya.
“apa
kau menungguku?” celetuknya menyentakkanku. Aku mengangguk perlahan
dan meliriknya sekilas.
“lelah
sekali mengatakan padamu, Yunri-ah ini untuk terakhir kalinya. Jangan
berikan hatimu padaku. itu hanya…”
“wae
oppa? Waeyo? Kenapa aku tak boleh menyukaimu? Apa karna aku adik Key
oppa? Apa karna ada gadis lain yang kau sukai? Atau… karna aku
sakit?” mataku mulai terasa panas untuk menahan laju air mataku.
“Tuhan
musnahkanlah sakit yang ia rasakan. Hentikan semua penderitaan yang
membuatnya tak lagi dapat tersenyum seperti dulu. Jangan biarkan ia
terus tersenyum untuk menyembunyikan lara pada jantungnya yang kian
hari terus menyiksanya. Tuhan, berikanlah kemurahan hatimu. Biarkan
aku merasakan apa yang ia rasakan. Pindahkanlah semua sakitnya pada
tubuh penuh dosa hambamu ini. biarkanlah nyawa tak berhargaku
mengganti hidupnya yang penuh dengan makna. Tuhan, sungguh aku
meminta padamu berikan apa yang aku minta malam ini demi kesembuhan
gadis cilik di hadapanku ini yang begitu ku sayangi…”
sederet doa panjang yang kudengar entah dari mana yang kuyakini
adalah suara key oppa yang berseru dari langit biru yang terus
menatapku. Ku alihkan pandanganku pada Minho oppa yang menatapku
sendu siap jabarkan apa yang tlah terjadi.
“karna
itulah kau tak boleh menyukaiku.” Jawab Minho oppa langsung tanpa
menungguku bertanya lagi kenapa. Ia berbalik meninggalkanku yang
masih berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
Ku
ikuti kemana arah wujudnya berlabuh. Nihil. Tak kutemukan dirinya
berada sekalipun jejak-jejak kakinya yang barang kali dapat
membantuku mengantarkanku padanya. Tempat ini berubah mengerikan
ketika kusadari aku hanya sendiri. aku ingin kembali Tuhan…! ~
Mata
sipit Yunri mengerjap terbangun dari tidur panjangnya yang membuat
semua orang begitu khawatir jika dia tak akan membuka mata lagi. Key
tersenyum dan cepat-cepat mengusap pipinya yang sembab karna lumeran
air matanya. Tangan Yunri perlahan meraih tudung oksigen yang
menghalangi hidungnya.
“oppa…!”
seru Yunri lemah. Key mendekat dan meraih tangan Yunri. Dengan
seksama ia mencoba menangkap ucapan-ucapan adiknya.
“Aku
telah mendengar semuanya. jangan pernah berdoa seperti itu. Aku tak
suka mendengar kau meminta Tuhan untuk menukarkan nyawamu denganku.
Cukup aku yang menjadi anak durhaka pada umma dan appa. Cukup aku
saja yang menorehkan kesedihan pada mereka. kau harus tetap hidup
untuk mendoakan kesehatan kim ahjussi dan lee Ahjumma.” Pinta Yunri
menahan tangis.
Nyonya
Jung mendekati Yunri dengan terbata-bata menahan tangis untuk
menguatkan putrinya, “kau putriku, kau tak akan pernah menjadi anak
durhaka. Sakit ini bukanlah kemauanmu. Umma tau itu!”
“bakti
seorang anak akan terlihat ketika orang tuanya telah meninggal nanti.
Mian umma, appa aku tak dapat menuntaskan kebaktianku pada kalian.
Aku harap kalian tak pernah menyesal telah merawat anak yang tak
dapat berbakti pada orang tuanya.”
“kami
tak pernah menyesal telah membawamu ke dunia ini. dan kami tau kau
tak akan menjadi anak yang durhaka karna kau akan baik-baik saja.
Setelah ini semuanya akan kembali ke keadaan semula. Dan kami tau kau
akan menuntaskan baktimu pada kami.” Ujar Tuan Lee mengusap penuh
kasih kening putrinya.
“gumawo.
Oppa, tolong bawa aku keluar.”
“mwo?”
“Aku
ingin menghirup udara segar malam ini. bukankah aku telah tertidur
cukup lama?” Key melirik sekilas orang tua Yunri meminta
persetujuan mereka untuk membawanya keluar menuruti permintaan
putrinya.
End
POV
>>>
Yunri
POV
“malam
ini, mengapa hanya ada bintang-bintang kecil yang tak berbinar?”
tanyaku basa-basi pada Minho oppa yang duduk di bangku taman dan
terus memperhatikanku.
Ya,
kali ini aku bisa melihat keelokan malam hanya berdua saja bersama
Minho oppa. Apa ini terdengar aneh? Setelah sekian lama Minho oppa
menghilang tanpa kabar kini ia berada di sampingku yang masih saja
mengaguminya. Apa mungkin hatinya tlah terbuka untukku? Hingga ia mau
meluangkan secuil waktunya bersamaku? Jika ya aku rasa malam ini
adalah malam keberuntunganku karna dapat menghabiskan sisa waktuku
bersamanya. tentu saja mana mungkin aku menolaknya. Dan seperti
inilah aku bersamanya.
“oppa,
apa kau tau sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku polos terus
memandang bintang.
“2
hari.” Jawab Minho oppa singkat.
“benarkah?
Berarti hari ini adalah tepat hari ulang tahunmu. Bukankah ini belum
lewat tengah malam oppa?” kututup mataku dengan kedua tanganku
saling berdekapan di depan wajahku. Dengan khusyuk kupanjatkan doa
penuh pengharapan pada Tuhan yang mungkin saja bermurah untuk
mengabulkan doaku.
“apa
yang kau lakukan?” tanya Minho oppa ketika mataku telah terbuka
dari kekhusukanku berdoa.
“berdoa.
Memohon semua yang terbaik pada hari spesialmu.” Jawabku singkat
memandangnya.
“benarkah?
Apa yang kau minta?”
“rahasia.
aku tak bisa mengatakannya. Aku takut permohonanku tak akan
dikabulkan oleh Tuhan jika aku katakan sekarang.” Sesalku tak
memandangnya.
“lalu
doa apakah yang kau minta pada hari itu?” aku terdongak mencoba
menerka apa yang dimaksud Minho oppa. Apa mungkin yang ia maksud
permohonanku ketika ia pergi meninggalkanku?
“saat
itu aku meminta pada Tuhan agar mau membukakan hatimu untuk
menerimaku. Namun jika kau masih tak mau menerimaku, setidaknya
berikanlah aku kehidupan hingga aku mengetahui alasan apakah itu. Dan
aku senang dalam tidur singkatku aku telah menemukan jawaban apa yang
aku ingin ketahui.” Jelasku tetap tersenyum. “ Oppa benarkah kau
tak bisa menerimaku karna sakit ini?”
“Yunri-ah…”
“apa
aku benar?” tanyaku menatapnya dalam. Minho oppa membuang nafasnya
dan mencoba setenang mungkin untuk menjawabku.
“aku
hanya tak ingin menjadi seseorang yang akan mempercepat jalan
kehidupanmu. membuat orang-orang yang begitu mencintaimu dan
mengharapkanmu tetap hidup semakin bersedih. Dokter bilang ritmik
detakan jantungmu semakin tak menentu. Kau tak boleh terlalu gembira
ataupun bersedih apalagi terluka untuk menghindari reaksi berlebihan
detakan jantungmu itu. Karna itu aku tak berani berada di dekatmu.
Aku takut akan membuat detakan jantungmu kian tak terkendali.”
Jelas Minho oppa.
“Dalam
strata perasaan manusia menjelaskan bahwa kegembiraan lebih baik dari
pada kesedihan. Kesedihan lebih baik dari keputus asaan. Dan
keputusasaan itu jauh lebih baik daripada kehampaan. jika itu
alasanmu, lebih baik kau menyakitiku daripada aku harus merasakan
hampanya hatiku. Karna kehampaan itulah yang akan membunuhku secara
perlahan. Tanpa belas kasih untuk ijinkanku merasakan semua strata
perasaan manusia yang ada.” Balasku membuatnya terdiam. Aku rasa
kini ia tengah berpikir bahwa apa yang aku ucapkan benar.
“sekarang
jawab aku. Apa kau memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku
rasakan padamu?” dia menatapku sejenak tak langsung menjawab
pertanyaan singkatku.
“jawaban
ya atau tidak darimu tak akan membunuhku seketika ini juga.”
Imbuhku tersenyum meyakinkannya.
Dia
mendekat dan bersimpuh di hadapanku perlahan menggerakkan tangannya
mengusap keningku, “ne, nan jongmal saranghaeyo!” ujar Minho oppa
membuatku tak dapat menahan air mata bahagia karnanya. Dia memeluk
dan menenangkanku. Membiarkanku menikmati aroma tubuhnya yang mungkin
tak dapat kutemui lagi suatu hari nanti.
Jam
bandol besar berdetak 12 kali. Menunjukkan bahwa periode tanggal 9
Desember telah berlalu dengan aku yang memeluknya.
“Tuhan
kabulkan doaku. Ambillah aku jika ini memang waktunya. Aku siap pergi
sekarang juga dalam dekap kasih orang yang aku cintai. Terima kasih
telah memberiku waktu selama ini.” Batinku dalam dekapan
pelukannya.
Seketika
semua kabur dan meremang. Cahaya putih rembulan perlahan memudar.
Semua terlihat gelap namun begitu indah yang kurasakan. Karna hari
ini aku melepaskan semua sakitku dan dapat menghembuskan nafas
terakhir dalam pelukan orang terkasihku. Terima kasih atas semua
cinta yang kalian curahkan padaku, dan mian telah mengukir sendu
dalam tiap linangan air matamu. 10 Desember 2012 00:03 KST Lee Yunri
tlah menghempaskan hidupnya.
>>>
Daun-daun
kuning yang berterbangan mengantarkan pemakamanku hari ini. dari
sudut Afrika yang kutemukan tempo hari yang lalu, dapat dengan jelas
aku melihat mereka yang mencintaiku mengantarkan jasadku.
Buliran-buliran ketulusan itupun jatuh satu persatu di atas tanah
pemakamanku. Melihat mereka hari ini, membuatku serasa ingin
menghapus semua kesedihan ini.
Seorang
namja berbaju hitam lengkap dengan payung yang terlipat rapi
menyangganya, juga vedora hitam bertengger di kepalanya
menghampiriku, “Tuhan telah bermurah hati mengabulkan semua
permintaanmu. Jangan bepikir serakah dan meminta untuk kembali ke
alam yang tak seharusnya kau pijaki lagi.” Ujarnya cukup
mengejutkanku.
“kereta
akan segera tiba. Tatalah hatimu untuk bergabung dalam dunia baru.”
Imbuhnya. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk kedalam kereta
listrik yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
“mianhamnida.
Tuan, anda ini siapa?” tanyaku hati-hati ketika dia telah duduk di
seberang tempat dudukku.
“aku,
Lee Jinki, masinis Kereta Alam Dua Dunia. Tugasku menjemput
orang-orang sepertimu yang baru saja meninggal dan mengantarnya ke
alam ke dua.”
“oh,
tuan Lee, apa anda ini seorang malaikat? Apakah di alam kedua nanti
aku dapat bertemu dengan Tuhan?” tanyaku berbinar.
“mollayo.
Itu bukan wewenang yang aku ketahui. Lantas apa yang ingin kau
lakukan jika dapat bertemu dengan-Nya?”
“aku
ingin berterima kasih karna telah mengabulkan permintaanku.”
Jawabku singkat.
“permintaan?
Permintaan yang mana?”
“permintaan
terakhirku. Terima kasih karna telah terkabulnya harapanku, aku
senang aku tidak meninggal di hari special orang yang aku cintai.
Setidaknya orang yang aku cintai itu tak akan mengutuk hari
kelahirannya karna bertepatan dengan hari meninggalnya diriku. Terima
kasih karna telah memberiku jawaban atas semua pertanyaanku.”
Jawabku innocent.
“simpan
ucapan terima kasihmu jika kau memang sudah berhadapan langsung
dengan-Nya. Berpeganganlah. Kereta akan melaju sangat pesat!”
Kereta
mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat. Pergerakannya begitu
singkat ketika melewati gundukan tanah yang telah mengubur jasadku
rapat-rapat. Dan dari jendela bening ini, dapat aku tangkap potret
orang-orang yang mencintaiku. Yang telah ikhlas melepasku. Meskipun
sekilas, aku cukup senang dapat menangkap goresan-goresan tegas wajah
mereka.
“Selamat
melanjutkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.”
----THE END-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar